PUASA DAN KEADILAN SOSIAL

PUASA DAN KEADILAN SOSIAL
OLEH: FIKRUL UMAM MS*

Suara takbir berkumandang, beduk bertabuh tanda adzan maghrib tiba. Puasa dan berbuka sebuah rutinitas yang dilakukan umat Islam selama bulan Ramadhan. Puasa adalah bulan dimana peleburan dosa yang dilakukan umat manusia di dunia; khususnya umat Islam yang dimulai dari ba’da shubuh (imsak) sampai menjelang maghrib tiba. Momentum untuk memperbaiki diri dan momentum untuk mendekatkan diri pada Tuhan mempunyai sosio historis yang panjang, dimulai dari para nabi sebelum Nabi Muhammad-Allah telah memerintahkan nabi untuk berpuasa.
Pada bulan Ramadhan adalah dimana orang muslim diwajibkan untuk berpuasa penuh selama sebulan, dan pada bulan inilah manusia berlomba-lomba meraih pahala untuk menuju fitrah-Nya. Umat Islam diuji untuk mampu menahan lapar dan haus selama berpuasa dan tidak diperbolehkan melakukan perbuatan maksiat melainkan harus memperbanyak amalan sunnah demi mencapai tingkat keimanan dan ketakwaan yang lebih. Secara filosofis puasa merupakan berbagi rasa dimana manusia diciptakan memiliki derajat yang berbeda-beda, mulai yang kaya sampai yang miskin, mulai pejabat sampai konglomerat, merasakan hal yang sama yaitu berpuasa.
Mulai dari semangat untuk beribadah kepada Allah, berbagi sodaqoh kepada si miskin ketika berbuka, mengadakan pengajian-pengajian yang membangkitkan seamangat untuk memperbanyak amalan sunnah, seperti; sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, memperdalam kajian Islam, dan memperbanyak dzikir adalah nuansa yang begitu sejuk dipandang dan bagian dari hakikat puasa. Ketika hakikat puasa sudah mencapai pada tingkatan social-keagamaan maka keadilan social harus diperjuangkan. Bagaimana banyak rakyat jelata yang tertindas akibat penggusuran rumah yang seharusnya dijanjikan oleh Allah; bahwasannya seluruh kekayaan alam dan isinya hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia berbanding terbalik dengan kondisi dan fakta beberapa daerah di perkotaan.
Inilah Ramadhan bukan nuansa untuk berebut nasi bungkus yang diberikan Cuma-Cuma oleh seorang dermawan , akan tetapi rasa kebersamaan antara masyarakat Indonesia demi terwujudnya kesejahteraan social. Rasa perbedaan antar organisasi kemasyarakatan yang saat ini mudah terprovokasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab hanya demi memecah-belah rasa persatuan dan membahayakan dan mengancam pertumpahan darah antar sesama muslim harus dihindari. Apalagi hanya berbeda keyakinan dan berbeda penentuan awal Ramadhan dan penentuan Hari Raya Idul Fitri 1429 H janganlah disikapi berlebihan, karena jadikanlah perbedaan itu merupakan kecerdasan untuk memilih mana yang dianggap benar dan keliru, karena Indonesia bukanlah bangsa yang bodoh. Ketika Menteri Agama sudah memutuskan dan menentukan perayaan Hari Raya Idul Fitri berarti sudah terjadi kesepakatan bersama antara ormas Islam (sidang isbat), dan didasari “keilmuan” (baik dari”akademisi” perguruan tinggi maupun ahli falak) yang modern, jadi NU dan Muhammadiyah tidak perlu berdebat, akan tetapi marilah bersama-sama meraih kemenangan untuk menolok ukur kekuatan Bangsa Indonesia menjadi Bangsa yang semakin aman, makmur, dan sejahtera.
Ketika Idul Fitri selesai akan mampu membangun kekuatan baru di dalam diri umat Islam, sehingga hakikat puasa dapat terejawantahkan dalam sikap kita ketika menghadapai segala macam problematika kebangsaan dengan arif dan bijaksana.
*Fikrul Umam MS adalah Peneliti Hasyim Asy’ari Institute Yogyakarta..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s